Tampilkan postingan dengan label Teori Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2015

Sifat, Tujuan, dan Fungsi Teori


            Sifat dan tujuan teori, menurut Abraham Kaplan (1964), adalah bukan semata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi juga suatu cara untuk melihat fakta, mengorganisasikan serta mempresentasikan fakta tersebut. Suatu teori harus sesuai dengan ciptaan Tuhan, dalam arti dunia yang sesuai dengan cirri yang dimilikinya sendiri. Dengan demikian teori yang baik adalah teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Apabila konsep dan penjelasan teori tidak sesuai dengan realitas maka keberlakuannya diragukan dan teori demikian tergolong teori semu.
            Teori juga mempunyai fungsi. Menurut Littlejohn, fungsi teori ada 9 (sembilan):

Pengertian Teori


Secara umum istilah teori dalam ilmu sosial mengandung beberapa pengertian sebagai berikut:
  • Teori adalah abstraksi dari realitas.
  • Teori terdiri dari sekumpulan prinsip-prinsip dan definisi-definisi yang secara konseptual mengorganisasikan aspek-aspek dunia empiris secara sistematis.
  • Teori terdiri dari asumsi-asumsi, proposisi-proposisi, aksioma-aksioma dasar yang berkaitan.
  • Teori terdiri dari teorema-teorema yakni generalisasi-generalisasi yang diterima/ terbukti secara empiris.

Pengertian Ilmu


Terdapat banyak definisi tentang ilmu yang dirumuskan oleh para ahli. Masing-masing mempunyai penekanan arti yang berbeda satu dengan lainnya. Empat di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematik, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum (Nasir, 1988).
  2. Konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal: adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi, dan dapat disistemasisasi (Shaphere, 1974).
  3. Pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif, dan konsistensi dengan realitas sosial (Alfred Schutz, 1962).
  4. Ilmu tidak hanya merupakan suatu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi (Tan, 1954).